Arsip Bulanan: Juni 2014

Aku iri

Kisah dari sebuah mesjid di kota padang.

Cerita ini merupakan sebuah renungan akan betapa ruginya sembilan belas tahun umurku, namun tidak begitu banyak mengerti agama. Tumbuh sebagai anak yang lumayan berprestasi, akupun berhasil masuk sebuah universitas negeri di kota padang. Diawal perkuliahan biasanya diadakan suatu kegiatan minat dan bakat,dimana kegiatan ini menuntut setiap mahasiswa baru untuk dapat melebur diri dengan suatu unit kegiatan yang ada. Akhirnya akupun memilih kegiatan kerohanian.

Singkat cerita, selain melakukan aktivitas akademik, akupun meluangkan diri untuk belajar banyak hal tentang agama. Mendalami al-qur’an dan al-hadist bersama orang-orang yang ada didalam unit kegiatan kerohanian ini. Ada kalanya juga, kami semua ( anggota organisasi islam kampus ) berkumpul-kumpul dan berbagi inspirasi. Dan ada juga kalanya dimana kami diberi tausyiah, atau sekedar wejangan oleh ustad-ustad dan alim ulama yang dapat ditemui di masjid-masjid sekitar kampus.

Hingga pada suatu hari, tepatnya ba’da maghrib dipertengahan bulan februari. Aku dan beberapa orang teman dari organisasi, berkumpul bersama dan berbagi sedikit ilmu yang telah kami dapat. Pada saat itu Ditengah-tengah kami juga terdapat seorang ustad yang saat itu sedang berdiam menunggu adzan isya. Sontak saja kami semua mengajak ustad tersebut untuk bercerita beberapa hal tentang agama. Perbincangan lembut bernuansa islam pun mengalir begitu saja, hingga pada suatu moment aku bertanya dengan antusias, ” ustad, adakalanya kita saalah dalam melakukan gerakan shalat karna tidak konsenterasi, lalu apa yang harus kita lakukan ? mengulanginya atau bagaimana ? “. Sang ustadpun hanya tersenyum sambil memandang pada suatu arah. Agaknya ia baru saja melihat hal menakjubkan. Dari arah yang dilihat sang ustad, kami semua pun ikut mencari tahu.

Tanpa disaadari ternyata pandangan kami semua tertuju pada seorang anak seusia sekolah dasar yang baru saja mengakhiri shalatnya dengan salam. Lalu ia pun menambah sujud sebanyak dua kali, dan mengulangi salamnya. Sejujurnya sebagian dari kami merasa heran dan bingung. Kemudian sang ustad menglihkan kembali pandangannya, kali ini tertuju pada ku. Ia pun berkata, ” itulah jawaban dari pertanyaan mu, saat kita salah dalam shalat berarti kita berhasil digoda olah saiytan, namun saat kita melakukan sujud syahwi saiytan pun menangis karna usahanya sia-sia “. Detik itu juga aku mengerti, dan detik itu juga aku merasa malu. Karna pertanyaan ku pada dasarnya telah dijawab oleh seorang anak SD. Hal yang membuatku iri diusia sembilan belas tahun ini, bahkan untuk praktik shalat saja, ilmu ku tak lebih banyak dari seorang anak SD. Aku iri, sangat iri. Dan rasa iri ini akan ku ubah menjadi rasa gatal dalam menuntut ilmu agama. Subhanallah.

Ingat, allah melarang perbuatan iri, kecuali untuk hal kebaikan. ( Hadist )

Iklan